Dunia p0eTRiE

UNTUK mereka yang MENYUKAI KEBEBASAN
get the freedom to be you, be YOURSELF no MATTER what THEY SAY !!!

Tuesday, 14 July 2009

Berani Mengambil Sikap

Siapa gerangan? Saya. Sebab tadi, baru saja menolak dua kasih-pertemanan. Satu di Pezbuk saya oleh Bu Bawel yang pernah membantu saya merumuskan : Menulis adalah untuk men-defrag otak seorang saya. Satunya lagi, menolak ajakan tertawa haha hihi semu, oleh dua kawan SMU saya - Nyez n Tataning. Sebab saya, memilih untuk menyambangi Gardu nun jauh di pelosok, di kalijaga sana. Tempat yang tidak memedulikan gaya hidup orang beradab demi dikatakan manusia berpendidikan dan berkelas.

Entahlah. Saya sepertinya mengalami apa yang dinamakan kebencian membabi buta, dan entah pulak terhadap apa. Ini, ada artikel yang semoga membantu :
Saya pada pendidikan.

Yah. Saya benci ketika kebencian ini datang membabi buta dan saya tak kuasa meredam.

Saturday, 11 July 2009

Pencarian Saya dalam Seorang Adik

Lucu, kemarin saya habis mengalami percakapan yang mendalam dengan adik saya. Adik yang tidak pernah saya kenali sebelumnya, baru ketika saya menemukan diri saya sendiri (meski baru sebagian) sekitar Februari 2007 akhirnya saya mulai mengenali banyak hal di luar diri saya.

Untuk meningkatkan gairah, mari saya tuliskan beberapa pujian dari adik saya dan kenyataan sebenarnya yang saya alami (dan mungkin saya rasakan) :
  1. lu tuh masuk ke mana-mana, ya radio ya alay ya seni (temen-temen seniman lo, itu maksud dia. padahal, yang terjadi adalah ternyata ada sesuatu yang salah di otak saya. saya - yaitu dulu - mengalami suatu gejala ADHD - Attention Deficit Hyperactivity Disorder alias gangguan sulit fokus pada satu hal dan ini menyebabkan otak saya melompat-lompat. terbukti dari banyak korban yang cenderung tidak paham dengan apa yang saya katakan. lebih parah lagi, si lelakiBAIK yang kini sudah bukan cinta saya melainkan Bekas Obsesi saya pernah berkata : memang seberapa parah sih kalok kamu sampe dikenali orang lain? kira-kira dia ngemeng gitu. dan, benar-benar parah. saya saja masih berusaha mengenali diri saya sendiri, kok orang-orang itu maen mengorek dan mencari tau seenaknya. dan, ya. sebab saya memutuskan bahwa benar sudah saya hidup berdasarkan insting - kayak anak anjing yah?)
  2. omongan lo suka susah dimengerti (adik mengartikannya sebagai : ribet. tanpa dia tau, kakaknya juga ribed dengan isi kepalanya sendiri)
  3. janji lo ga bisa dipercaya (damn it. yah, sejujurnya saya sempat tertusuk silet - lhoh kok silet? dengan pujian darinya itu. jadi, nyata sudah bahwa ADHD ini kemungkinan berpeluang menimbulkan beberapa kepribadian yang berbeda. hadooh, terobsesi dengan Sybil si gadis dengan 16 kepribadian ini mah...
  4. lo lupa? wajar lah, udah 9 tahun gitu... (ini ketika dia cerita tentang Tragedi Becak, ketika waktu itu saya kelas 1 SMu dan dia kelas 1 SMP. dan dia bisa ingat semua itu, termasuk ekspresi saya datar dan akhirnya misuh-misuh pas peristiwa berakhir. jika itu 9 tahun lalu bagi saya, pan wat dia juga 9 tahun lalu?! dan, adik menganggap itu karena saya memiliki ingatan jangka pendek, eh artinya memori saya lemah. astaga. jika ia tahu bahwa saya sempat merasa takut sebab cukup banyak hal terjadi pada saya dan seolah mimpi, sampai-sampai mengutip kalimah MN : gwa ud gbs membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. begitulah...)

Sudah. Sebegitu saja cukup. Oia, baru saja saya membuat definisi yang cukup penting dalam perjalanan ini : Seniman Kata, yah itu pan sempat menjadi pilihan obsesi saya.

Ada lagi. LelakiBAIk sud mendengar langsung dari mulut saya di kuping dia meski via lelepon. Ah, andai bisa langsung. Tapi nantinya bisa terjadi hal yang saya inginkan tetapi tidak dia inginkan dunks? Kyahahaha!

Bahwa dia bukanlah Yang Saya Suka Setengah Gila, melainkan hanya obsesi semata. Opsi yang saya putuskan saya terima, setelah mendengar petuah idiot Neng Tivtiv yang notabene adalah kawan LelakiBAIK.

Dan, saya masih tertawa bahagia sejahtera setelah dengan lebainya sesaat saya merasa Patah Hati namun sekaligus merasa datar. Hohoho... Masih bisa leleponan ama dia nya itu, begitulah. Semua kembali pada keadaan semula, bahwa saya masih bisa dan sanggup berinteraksi dengan dia. Hebat eh saya?

Dan akhirnya, saya menemukan persamaan di antara kami (sheuuuh, kami bo...)

Dia masih berusaha menyebrangi jurang antara ia di sisi satu ke seberangnya di mana jurang itu adalah darinya (semacam hubungan pribadi, alias kisah romantis - jiiiaaaah najis dah gwa!) dan masa silam. Saya pun demikian, saya pun sedang menyebrangi jurang itu. Jurang itu bukan antara saya dan sesiapa, tetapi antara saya dan kepingan-kepingan diri saya yang berserakan di mana-mana di masa-masa entah. Menjelang usia saya ke-24, saya baru merasakan diri ini seutuhnya 2tahun-5bulan (dan terkaget-kaget betapa ajaibnya peristiwa menjadi manusia ini).

Ah sudahlah... Saya mencintai diri saya sendiri seutuhnya...

Tuesday, 7 July 2009

Kegilaan Ini Membunuhku

Oke, ini akan terdengar sangaaat hiperbokis. Bukan cinta yang membunuhku, tetapi kegilaan yang fluktuatif ini yang agaknya membunuh jiwa saya perlahan-lahan. HAHAHA... Ketawa Kapital.

Ini dia si blog adik saya semata wayang buah simalakasdut Amank Toa Buluk. Dia bilang dalam profil eta blog : sedang belajar menulis, suatu seni merangkai kata.

Padahal, baru tadi si saya esmosi jiwa padanya dan lantas jadi bete sangat pada ibuku. Yah, orang-orang mehek-mehek pasti akan bilang : Jangan suka gitu sama ibunya. Kalian tidak tau seperti apa aku dan terlebih ibuku, jadi gawsa banyak bacot deh..!

Apa yang lucu? Saya, kakaknya si Buluk Toa, sungguh berobsesi ingin menjadi Seniman Kata. Si Orang Setengah Gila yang menemukan keasikan tersendiri dalam bermain dengan kata-kata, kalok perlu bermain dengan hal lain pula. Hati dan badan, sebab jika badan ini tidak akan hancur melainkan hati remuk berkeping-keping. Hasyaaah, kenapa jadi ndangdut ginih?

Tapi, entah juga yah? Menjadi seniman artinya siap hidup kayak orang susah. Secara, itu si Bu Dhe yang mengaku sebagai anggota berdarah seni, eh malah berakhir menjadi Busnis-Wati yang keknyah sih secara finansial doski tajir-tajir ajah.

Ah, jadi binun eh sayah...

Mum, HATE you so. But the more I hate U the more I became look like U. SIAL...!

Jadi, apa sih pesan moral tulisan ini? Saya menulis untuk merapikan struktur otak saya yang burak rantak kayak Lalu Lintas Jakarta Yang Gila Bangeud..!

Wednesday, 1 July 2009

Tentang Kontradiksi

Ini nyata benar lucu satirnya. Saya, saat ini masih berada di area JaTim, setelah kemarin menjadi Tukang Jualan Kaos pleus Buku-buku dengan harga miring. Pake TOA, serasa jualan di Tanah Abang... Oh, itu. Di Acara ESOK (Emperan Sastra COK - Cepetan Ojo Keri)

Lantas, adalah Nurel si Sastrawan Sinting (dan yah, saya suka keunikan yang terpancar dari dirinya) tiba-tiba berkata : mana tulisanmu? Dengan asumsi, ia berkata demikian sebab saya jarang menulis di PezBuk, sebuah situs jejaring so(k)sial.

Lantas, saya melengos acuh dan menjawab alakadarnya : lhoh, aku ya ndak melulu nulis di FB.

Oke, jadi gini. Sebagai seorang yang menyadari dirinya adalah penderita gejala kesulitan fokus terhadap satu hal sajah (alias isi otaknya lompat-lompat kayak kodok blengkong yang dalam bahasa ilmiahnya ADHD - Attention Deficit Hyperactivity Disorder) maka saya dalam keadaan setengah sadar menjadikan diri saya menulis di perlbagai media. Misal di blog-alias-E_Magazine usia 20an ke atas dan potoblog saya pleus di blog-Nginggris saya. sila kliksetiap tautan yang saya sediakan. Lagipula, si tokoh Nurel ini mengkhususkan dirinya di sastra sajah.

Yah, saya memutuskan bahwa saya menulis sebab perlu untuk merapikan otak saya yang berantakan.

Saya suka fisika, muntah darah dengan matematika, dan ternyata sangat suka astronomi pleus menemukan keasikan tersendiri dalam permainan kata-kata. Ketika membaca (meski belum menyelesaikannya karena keburu bosan, ataukah saya merasa sud menangkap intinya?) Gunung Jiwa, sebuah novel yang menang nobel, ntah taun kapan, saya mendapat pemahaman bahwa pencarian saya akan diri saya sendiri rupanya melintas batas dari keempat unsur yang dikatakan dalam novel tersebut. Yaitu : sains (mengingat saya telah lama berkutat di bidang itu sejak masih bocah sakula), sastra (saya mengidamkan belajar bahasa perancis setelah menjadikan diri saya seolah yakin ingin belajar bahasa jerman), filsafat, dan agama. Yang filsafat dan agama sepertinya terjadi dalam keadaan antara saya sadar dan tidak.

Ndilalah, di PezBuk saya akhir-akhir ini dipenuhi oleh kaum sastrawan baik yang beneran maupun yang gegayaan thok, saya jadinya suka menuliskan beberapa puisi yang saya buat dalam keadaan ntah bagaimana. Kadang, saya sendiri ajaib kok bisa yah?

Ada, katakan lah seorang sastrawan yang sempat saya sukai karena kutipannya. Mensinkronkan dada (perasaan) dan kepala (logika, alias berpikir). Oke, mari sebut ia EM. Nah, kontradiksi itu terwujud ketika kawan, Mbah Yus, berkata : dia gak suka sama gaya nyelenehmu Pyut. Oia, tadi malam malah Mbah Yus dan Nurel si sastrawan sinting malah meributkan tentang si EM yang hanya bisa menggunakan dada dan meniadakan kepalanya. Astaga, apa ini? Dia, si EM itu yang diakui publik (sepertinya, sebab saya tidak mempedulikan itu) sebagai Penyair Makasar malah bersikap tidak dewasa (mengutip kalimah Mbah Yus) dengan mengabaikan si saya yang dianggapnya slengekan...

Tetapi, hanya sebatas itu saja. Saya lagi-lagi tidak mempedulikan itu. Termasuk kemungkinan agar saya mendapatkan publikasi, merujuk nama saya Putri sarinande, menurutnya si Nurel Sinting ini, adalah namayang menjual.

Saya muak dengan pengkotakkan. Saya, hanya ingin didengarkan. Dan, inilah yang rupanya saya lakukan tanpa sadar, ketika LelakiBAIK meradang karena merasa terganggu konsentrasinya oleh si saya. Dan, di sini. Setelah berjuma dengan Neng Tivtiv, saya mengamini opsi : bisajadi, saya memang hanya terobsesi padanya. Semacam, menemukan sesuatu yang tidak ada dalam diri ini (terhadap lelakiBAIK)

Apapun itu, saya hanya ingin didengarkan!!!

NB : sepertinya, saya mulai terpengaruh si buku SYBIL (Kisah Nyata Gadis dengan 16 Kepribadian)


tertanda : Warnet Sugitong, area dekat Mesjid Agung Surabaya.

Sunday, 28 June 2009

Menikmati Hidup

Saya sedang menikmati kehidupan. Di sini, di Surebejeh, saya menemui teman2 saya : Sugitong, Nisa-Gendut, Bu Dhe Ilenk, Mbah Yus.

Oia, teman-temanku yang memiliki akun FB, si sayah sedang berlibur dari FB terkutuk itu. Sebab saya bisa gila jika terus menjadi stalker-nya (fiuhhh) : Sang Udara kehidupanku, si Lelaki Baik.

eh, sayah tuh nulis pke bahasa nginggris di situh. jadi, jika ingin keterangan lebih jelas tentang kisah si sayah ke sonoh ajah. oia, ada suka beberapa kabar menarik di twitter. silakan bergabung ke Putri-Nge-twit ajah untuk pertemanan yang lebih menyenangkan yah (halakh...)

Mumun keparad, kaw tak menemaniku eh... But I still love you butchie...

Saya adalah saya, sampai-sampai saya tidak tahu bagaimana saya mendefinisikannya. LelakiBAIK bilang saya indigo yang susah dikendalikan. Ah, sama sajah dengan si geZet yang berkata saya ini The Yahoo Messiah. Kalian ngaco, saya hanya seorang manusia yang tidak sama dengan kebanyakan manusia lain. titik. habis perkara.

Warnet Sugitong (Surabaya, setelah 12jam menjadi sarden dalam kereta api ekonomi dari Cirebon menuju Surabaya)

Oia, nanti jika saya sempat saya akan menuliskan kisah si cemputh dalam kereta api sarden...

Tuesday, 2 June 2009

Tentang Bahagia

Jadi, ceritera ini adalah kisah si Babu Intelek (saya, selaku pegawai tauladan) yang mendapat gaji melebihi dari yang saya harapkan.

Singkat saja sih. Harusnya saat ini, Si Babu Intelek mendapat gaji kurang dari 100% sebab masih menjalani Masa Percobaan (Probability Period, that's what my mum - the best friend and the best rival in my life recently - said). Ndilalah, saya mendapatkan utuh 100%. Hahay, serasa iklan : I got one hundred percent ^,^

Jadi, ekspektasi saya di bawah hasil. Maka saya bahagia. Sebab kecewa adalah ketika hasil di bawah ekspektasi.

Itu pertama. Ini kedua. Hahak, kembali tentang si lelakiBAIK (pembaca sud bosan atau malah baru tau? kalem wat yang bosan, sayah ajah jadi bosan sendiri, hwakakak!)

Saya tadi malam diajak berpikir bareng sama dia, via lelepon. Hahak, jadi dia (si lelakiBAIK, perlu ada penegasan tuh, heuheuw...) memiliki fatwa sendiri :
people would rather die than think
Lalu, terlibatlah saya dalam percakapan mengerikan (dan sambil terhisap Lubang Hitam alias dia, huaaay... najis dah gwa...) dan semakin mengabutkan diri ini. Omaigosh...

Apa yang akan kamu pertahankan mati-matian dalam hidup ini? (semacam itu kira-kira pertanyaan yang dia tanyakan tga kali dan saya tak jua menjawab satu kali pun)

Rupanya, dia jenis lalaki yang memilih isi otak sebelum fisik. Yah, semakin membuat saya yang malas mikir dan cenderung apatis ini semakin jatuhcinta padanya (yak, ini isi blog makin najis dah! hwakakak...)

Itu kedua, ini yang ketiga. Perempuan Sendja, yang juga telah mendapat tempat di hati saya (lhah, lama-lama saya terdengar seperti lesbian eh biseksual? hehek...) hari ini berulangtahun. Dia, telah menggantikan posisi MN yang juga mendapat tempat sangat luas dalam diri saya. MN sedang teramat sibux saat ini. Dan aku memiliki tempat lain untuk mengalirkan isi sebagian diri. Ah, sungguh menyenangkan... Dasar, saya dan MN dan juga Perempuan Sendja memang sama-sama lesbian gagal (sebab kami lebih memilih laki-laki untuk memuaskan kami, kyahahahh!)

Ternyata, sesederhana itu saja untuk bahagia. Yah, ketiga alasan di atas bukan hal mutlak yang membuat saya bahagia. Sejujurnya, setelah saya leleponan-MIKIR ama lelakiBAIK sumpe saya mendadak insomnia (hal yang ud biasa sebenarnya, terjadi, pada saya Si Kalongwati ^,^ hohoho) daaan, gundahgulana resah tak menentu arah. Bukan karena dia semata, tetapi karena diajak mikirnya itu lhoh...

Oh, ini dia yang keempat. Si Babu (teman saya yang pernah saya ceriterakan, yang sedang menjadi WNI tak bertanggungjawab dengan kembali menjadi murid sakola di Sweden sonoh) mengangkat lelepon tak sengaja saya. Awalnya saya hanya pen kirim SMS, eh kucoba me-miskol dia sebab saya agak lupa nomornya yang Indonesia. Ndilalah meneh, bunyi. Lhah jadi bergosip deh gwa... Nah, Si Babu mengalami apa yang dinamakan Seonggok Jagung - binun mo ngapen berlibur di negara sendiri. Dia bisa saja berlibur di Eropa, sialnya visa dia telat diperpanjang. Saya mengobrol bodoh panjang kali lebar sama dengan luas dengan Si Babu. Obrolan sepasang Babu Intelek, yang sama-sama menampik bahwa kami ini sialnya suka berpikir (keknyah sih gitu, ataw jangan-jangan Babu menampik hal ini?)

Ah, sudahlah. Mari berbahagia!!!

SELAMAD BERBAHAGIA kalok begitu, apa pun alasan anda sekalian pemirso ^,^


NB : oia, berbahagia bisa dicapai dengan memberi (memberi dikatakan menghadirkan kehidupan)

maka saya memberikan Voucher Makan gratis - ada 4 macam - yang saya dapatkan karena masuk menjadi Hall of Fame di sebuah E-Mag tentang Bandung (kalian bisa klik tautan yang saya sertakan) pada teman-teman saya di Ciheu 4A (Tubagus Ismail Bandung) - sebuah kos yang lebih bermakna bagi saya dari apapun juga, yang menerima saya yang tanpa bentuk dan melepas saya yang agak sedikit berbentuk (jadi kayak tanah liat yah gwa? hahak...)

Ini pulak yang membuat beberapa kawan kos saya di Dusun Jatinangor (Bu Bawel n Liliput Kecil) kuciwa. Mereka bilang, saya sudah tak pernah lagi ber-blog-ria tentang mereka. Meski, saya yakin saya masih dekat dengan mereka, tetapi saya tahu segalanya tak sama lagi kini... (hiyaaah, lebai deh... sok sendu deh gwa...)

Sunday, 31 May 2009

Menemukan Sebagian Kepingan Diri

Yah, baru di cerita terakhir saya mengakui hitam di atas putih (salah nih, harusnya mengakui warna-warni di atas warna-warni secara blog gewe pan Pul-Kaleur hahak...) merasa teralienasi di tanah kelahiran saya sendiri. Ketika, mungkin bulan kemarin saya mengirim SMS pada teman sangat dekat saya, si Perempuan Sendja yang kira-kira isinya seperti ini :
"Gila, gw lagi menikmati kehidupan OppLen gw. Makan rujak, bisa kencan dengan diri sendiri. Dan ngisi bensin. Anjirrr, gw serasa turis di kota sendiri..."

Yah, ketika saya bercerita pada MN (masih tentang MN, yang telah membantu menemukan diri saya yang serupa kabut nebula tanpa bentuk) dia menyemangati saya dengan meminta saya agar tetap optimis dan jangan berhenti bermimpi. Begitu pula, ketika akhirnya saya bercerita pada MN lewat SMS, bahwa saya telah membuat keputusan akan definisi saya terhadap lelakiBAIK. Dengan belagunya, saya mengumpamakannya dalam bahasa Nginggris (sebuah bahasa yang selalu saya citacitakan sebagai I learn English to conquer not to follow) : he is a precious diamond to me, and air for me to breath. MN membalas SMS saya : goodluck then.

Tadi malam, akhirnya saya resmi menjadi anak Gardu, begitu istilah si Kang A nu forget lah about beungeut, nu penting eksotis hehehe (sekaligus OASE saya di kantor - jiji deh, kantor - jika dia berkunjung...)

Menonton sebuah pentas seni : tari tradisional Sekar Keputren, Tari Topeng, melihat pembacaan puisi rendra berjudul Sajak Seonggok Jagung sebagai pembuka terhadap pentas Paduan Suara (dan tarian apa entah yah? ah, saya ini bukan reporter yang baik - memilih perasaan daripada momen dan realitas berita...)

Baru tadi malam, saya mendengar sendiri master piece Rendra yang saya anggap sebagai definisi saya saat ini. Sajak Seonggok Jagung bisa para pembaca klik, sebab saya mencantumkan tautan di dalamnya untuk agar anda sekalian dapat melihat isinya.

Ini, adalah eksekusi puisi yang membuat saya serasa tertampar. Membuat saya ingin menitikkan airmata sejenak, dan saya tahan sebab sedang dalam suasana kemeriahan. Yang membuat saya kalap mendengar komentar tak penting ayah saya si Babe Aing yang sebenarnya saya cintai setengah mampus "itu tempat (Gardu Unik maksudnya) bukannya tempat sisa si Uwak (kakak ipar ibu saya, tidak ada alasan khusus bagi saya untuk mempedulikan anggota keluarga ayah dan ibu saya) yang dibiarin yah?" lengkap dengan tatapan menghina - setidaknya itu yang saya rasakan.
(...) ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepi!
Seperti kata MN, ada di mana itu tidak penting. Pertanyaannya adalah bersama siapa. Nah, jika sudah begitu, pada akhirnya saya hanya berkata : saya ini hanyalah secercah cahaya dari bintang nun jauh di entah... Sulit, melacak sumber sinar berasal. Aku dan Seonggok Jagung. Juga aku si cermin pemantul cahaya bintang nan jauh. Dan, terbuktilah kata-kata saya dalam SMS pada MF : aku pulang, untuk mengumpulkan kepingan-kepingan diri yang berserakan.

Entah apakah saya terlalu bodoh untuk pulang? Apakah benar bahwa saya tidak bisa lepas dari aktivitas menumpang hidup di rumah orangtua seperti ini? Saya kembali pada mereka, sebab saya mencintai mereka, dan ingin membuktikan apakah benar mencintai itu indah? Rupanya, banyak hal yang membuat mencintai akhirnya menjadi menyakitkan...

Baiklah, saya akan kembali menikmati hidup ini. Menikmati keputusan saya terhadap si lelakiBAIK. Menikmati apapun,,, sebab hidup adalah untuk dirasakan dan proses kehidupan itulah yang mahal dan sulit (ini masih kata MN)
Happiness is in my mind, body, and soul

Saturday, 23 May 2009

Sebuah Awal Menuju ke Awal Yang Lain

Awalnya, adalah Bang Saut yang menanyakan bantuanku untuk menyampaikan Jurnal BOEMIPOETRA pada salah seorang Peyair Cirebon. Karena membantunya, saya mendapatkan balas jasa (dasar pamrih saya ini, haha!) berupa sebuah Antologi Puisi Basa Cerbon yang berisikan puisi-puisi mas Alwy dan beberapa kawan lain. (kawan? ah... sok akrab benar saya...)

Lalu saya pun akhirnya bisa menyambangi markas kesenian di Cirebon Raya ini : Rara Santang. Dengan dibantu oleh Kang D (seorang kawan "kerja") yang ternyata adalah "kawan" atau lebih tepatnya menurut Kang D, ia adalah junior Mas Alwy. Sembari menyerahkan titipan Bang Saut, saya mengobrol tak tentu arah dan menonton para murid SMU sedang latihan pentas teater (sungguh sebuah hal yang tidak pernah populer di area almamater SMU saya yang mengedepankan kecerdasan hitam di atas putih alias nilai.hahaha, ketahuan deh kalau saya bagian yang kurang beruntung di dalam hitam di atas putih itu...)

Ketika Mas Alwy tertidur karena kebanyakan begadang, saya menggeratak Koleksi Buku Markas. Lalu saya menemukan sebuah Buku Antologi Puisi Santri dan menuliskan dua buah yang saya sukai. Kalian bisa melihat semacam resensi saya di sini dan kedua puisi yang saya sukai di sini ^,^

Saya pun sempat mengambil gambar lukisan hasil kreasi Sang Penyair (mungkin, ia pun sedang kurangkerjaan seperti saya. heuheuheu, ngarep...)

Kira-kira, gambar ini yang dapat kutunjukkan pada kalian wahai pembaca :


Sungguh lucu, bahwa saya di Kota Kelahiran saya sendiri, saya merasa seperti di alam lain. Apalagi ketika saya tadi habis berkumpul sekilas dengan beberapa kawan SMU. Terasa sekali bahwa waktu telah cukup banyak mengubah segala sesuatu, meski saya masih tetap merasa sama (atau bisa jadi sebenarnya saya pun tanpa sadar tunduk pada Sang Waktu dan turut berubah?)

Entahlah. Saya semangat dengan marmut untuk bersibuk-sibuk ria bersama (ataukah saya lagi-lagi kurang kerjaan dan sok penting?) di Ruang Belajar Gratis. Silakan klik tautan yang saya sertakan. Saya juga, menggila di radio yang digeluti anak-anak muda di almamater saya. Dan di minggu ceria tanggal 24 mei ini, saya akan menyambangi Markas Para Seniman, di gardu - dan saya diajak langsung oleh Sang Kepala Suku, Kang A nu kasep,,, (halaaaah...)

Wah, akhirnya ketahuan bahwa inilah yang saya inginkan. Meski terkadang pertanyaan gundahgulana itu datang kembali : apa yang sebenarnya saya inginkan?

Pesan moral kisah ini : memiliki tujuan sangat lebih berguna daripada mencapai kesuksesan. Mari, bikin hidup lebih hidup, sudah capek-capek bisa bernapas!!!

Thursday, 21 May 2009

Rakyat Jelata...

Justify FullSingkat ajah. Gue keknyah lagi dalam taraf lebai madu dangdut dan termenyek-menyek gimanaaa gituuu...

Nah, tadi (siang ini, kamis 20 Mei 2009 - bertepatan dengan Kebangkitan Kristus) gue baru kumpulkumpul dengan kawan-kawan dari situs pertemanan berlandasakan tulis-mentulis (mbuh apa fungsine, secara kagak usah masup situ juga saya ternyata sudah suka menulis sejak TK. terbukti dari tembok rumah Emak Gue dan Babe Aing yang penuh dengan goresan krayon ketika saya masih berusia sekitar tiga sampai lima tahunan) dan bergosip ria.

Lantas, inti ceritanya adalah : ada-ada saja yang keberatan dengan mulut-iseng saya yang gemar berkomentar. Ndilalah, saya langsung dunks memajang status di Akun PezBuk sayah : meminta maap... Secara, orang-orang yang sakithati dengan gua inih kagak pernah sekalipun bersua langsung denganku...Tapi, berkat bantuan nehnologi dan pilihan alias sikap poiitik saya yang SKSD ama orang, saya merasa tidak ada bedanya antara dunia maya dan dunia temen si maya, si nyata... (seperti suatu ketika, gua dengan tololnya pernah merasa bahwa gua ud gak bisa bedakan lagi mana mimpi dan mana kenyataan... najiiiz daaah ini omongan...)

Mbuh lah, terserah... Like I care...

Oia,,, akhir-akhir ini gua bisa jadi manusia normal. Bisa berbagi cerita dan tertawa riang gembira tanpa perlu menipu perasaan saya sendiri. Dan, ternyata saya masih menyukai si LelakiBAIK. Sudah setahun berlalu sejak awal perkenalan (ancriiit, najiz bet dah nih omongan...) dan semakin hari, semakin rindu... Gyahahaha... Gila banget deh pokoknya... Yang saya pedulikan, hanya dia. Dan, semua terjadi karena dia (tampaknya) telah menjadi obsesi saya *omaigosh... what the hell are you doing bitch???!*

When do love begin??? *ini lirik Love Song jaduL ^,^

Jadi, apa intinya? Entahlah. Gue ajah binun, gak jelas abis lah pokoknya... Cuma epek-epek lagi sendu ajah (sendu = senang duit, siapa yang gak senang? mustajab alias mustahil...)

Lakukan, apa yang hati dan otakmu yakini harus kau lakukan. Jika ada suara-suara sumbang, terkadang bukan karena kuping KITA yang sumbang, melainkan karena memang sumber suara itu yang berengsekz mampus!!! (akhirnya, saya bisa memberikan semacam pesan-moral di sini...)

Saturday, 9 May 2009

Merayakan Waisak

Kemarin, tanggal 9 Mei 2009 adalah Hari Ibadah Umat Budha Dharma. Merayakan Waisak, demi beroleh (semacam)pencerahan-batin menuju Bodhisattva...

Dan yah, ingat karma. lantas saya ingat microblogging. Hohoho...

Tetapi, bisa jadi itu - si karma - adalah bukti nyata aplikasi peribahasa : Siapa menanam angin, dia menuai badai. Heuleuh...

Huff, hari-hari berlalu. Dan terus berlalu... Setidaknya, saya masih bernapas sembari menggerakan otak dan hati untuk bekerja. Jadi, agar tidak sia-sia saya bernapas. Menjadi barang kodian? Mending gak usah diberi napas ajah sekalian... (ini kalimah pernah saya gunakan untuk mengomentari dengan sadis sebuah hasta karya idiot dari orang yang tidak kalah idiot di sebuah jejaring so(k)sial yang berlandaskan tulis-menulis - mayan lah, daripada nyoret-nyoret tembok hahay... *suara tertawa ala Benge, hahay*)

Wednesday, 22 April 2009

Apakah saya lucu?

"Tentu tidak, kan sudah minum kombantr*n."

Apakah kalian ingat kalimah itu? Benar, itu iklan Obat Pembasmi Cacing buat bocah. Dan sejujurnya, saya belom pernah cacingan.

Singkat saja : saya mau bercerita tentang ketololan di suatu pagi di hari sabtu yang berakibat pada meleduknyah kabel radio saya. Ada yang binun dengan kata 'meleduk'? Kalem. Meleduk itu semacam mbledug alias meledak. Yah, tidak selebai Bom Bali sih, dan apa lah gitu. Tapi mayan bikin kaget cuy!

Jadi, musnah sudah siaran ge je alias gak jelas di radio yang menemani saya mengusir kantuk di pagi hari. Kenapa musti radio? Sebab, aje gile malas betul rasanya menyalakan si Kokom atawa Leppy BuluQ demi mendengar winem berkicau dan pantat gue goyang-goyang cihuy nan maut. Lantas kenapa musti ada lagu? Buseeed daaah! Bayangkan jika pagi hari saya tanpa musik? Doh, pantat susah diajak ngesot dari keadaan tidur menjadi terjaga!

Dasar saya geblek. Sempet-sempetnya SMS-an dengan seseorang (cieee...lelaki bo, lelaki...lebai deh gue...jable...HAHAHA *ketawa kapital) yang sedang dekat (masih ngarep ama yang lain padahal,,, sungguh najis tralala saya ini *hohoho - sekarang ketawa ala Santa Klaus)

saya : (inti cerita agak duduls tentang Tragedi Kabel Mbledug di pagi hari)
dia : turut berdukacita atas radio yang mleduk.. semoga kabelnya diterima di tong sampah dan pemilik yang ditinggalkan diberi ketabahan amien.
saya : (sambil senyum-senyum najiez, membalas) doa yang mulia *pura-pura terharu
dia : terimakasih *gak pura-pura tulus

omaigosh! ini adalah kaget versi si MN.
omigordobella! ini adalah kaget versi Benge.

Dan yah, saya senyum-senyum tolol kerna merasa lebai dangdut. Tetapi, seperti kalian lihat, sungguh saya ini benar-benar penjahat terbaik (seperti terinspirasi oleh siapa lagi kalok bukan LelakiBAIK *uedaaan, mo sampe kapan nih kayak ginih huhuhu...) : pura-pura terharu kok diceritakan?

Ah, saya jadi tertawa kembali. Bisa jadi dia juga hanya atau sengaja berkata dan membalas demikian, jadi posisi bersalah alias terdakwa menimpa pada saya.

Kalau sudah duduls begonoh, apakah saya masih lucu?

NB : didedikasikan untuk
1. Bu Bawel yang keheranan dan kehilangan tulisan-tulisan spontan saya yang cenderung tolol dan menarik untuk dijadikan lelucon bersama "Bu Bawel, semua berubah eh? tapi sayah masih tetap lucu kok asal sesuai gelombang otaknyah" sembari tertawa nyinyir dan penuh kemenangan "hekhekhek"...
2. Liliput Kecil yang juga kehilangan tulisan gue yang berkisah tentang kami, bersama Liliput Kecil dan Bu Bawel sekaligus... oh tuhanku (tuhan dengan dan tanpa kapital)

Thursday, 16 April 2009

Ketika Hendak Menyendiri

Ini kisah merupakan isi SMS-an saya dengan seorang teman baru. Sebutlah namanya Kang-Gondring (sebab rambut dia gondrong dan itu awal mula percakapan saya dengannya...)

Berikut ini isi SMS-an kami. Sengaja pisan gua teh yah, memamerkan ketululan diri sendiri. Ah, peduli setan lah. Thoh, yang mau gua ceritakan adalah : gue ada alasan untuk menyendiri, berkencan dengan diri sendiri. Dan si Kang-Gondring (mencoba) mematahkan ajah gitu alasan gua tanpa bisa menjadi patah...

Peristiwa itu terjadi keesokkan harinya, setelah pada sabtu malam minggu, 28 Februari 2009 saya menjadi tolol karena cinta. Sebab tanggal 28 itu bertepatan dengan saat perjumpaan dengan Dino Umahuk Kang Yonathan dan Bang Ucok Sihar di Pesta Buku Puisi Dino, dan terutama bertepatan pula dengan selesainya perjumpaan saya dan lelakiBAIK (di mana saya mengacaukan suasana dan membuat dia semakin merasa yakin bahwa saya ini ANEH...) eh sejak malam saya gundah gulana (hoek najis,,,) tidak bisa tidur dan merasa sangaaat ingin menyendiri sampe keesokan harinya. Menyendiri dan melamun dan mengosongkan isi kepala hanya saja tetap berakhir dengan dialog dalam monolog saya...

Saya disingkat menjadi Putput (P) dan Kang-Gondring menjadi KG.

Awalnya neh, doi SMS duluan...
KG : Salam sejahtera.. Dah tdr lom?
P : lupa, mbuh SMS apaan. yang jelas isinya kira-kira "tetap bermimpi, sebab mimpi adalah energi kehidupan" (dan itu, sumpah kerna teringat si MN keparat yang sangat gue rindukan...)
KG : Weiz.. brawal kata sms di lanjut kedunia mimpi yang tumbuh menjalar ke dunia nyata..
Ketika mblog inih diketik, saya baru sadar betapa SMS KG mengabaikan pola Bahasa Indonesia, doi tidak dapat membedakan mana kata depan dan mana kata kerja. Harusnya "dilanjut" dan "di mimpi". Niat amat yak gua, HAHAHA... Ealah ndalah... Ndilalah... Saya sehabis menjumpai lelakiBAIK mendadak dangdut deh alias mendadak syahdu HAHAHA... Dan tuh orang nekat ngajak ngobrol :
KG : Salam belajar.. Pie kbre.. Lg pa nih?
P : lupa, tapi intinyah "sedang ingin sendiri" Bunyi SMS ini pulalah yang membuat rekan eh korban saya dalam permainan hati (dan badan) mendadak dangdut dan menjadi lebai.
KG : Bahaya klw terus2an sendiri.. Klw buth temen dalm kesendirianmu.. Ak akn coba jadi tmnmu yg baek? G mana? S7..?
Dasar ngeyel. Jadi emosiong pan pemirso?
P : Justru perlu sndiri utk sjenak,agar kata dpt m'alir lancar dari dada ke kepala lalu mengalir terus membentuk siklus serupa jantung yang tak pernah berhenti brdetak
Kalimah dalam SMS saya itu, merupakan ide dari karya-karya Mas EM (seorang kawan penyair dari Makassar - ataukah saya hanya mengaku-aku sebagai teman?) : siklus dada merasa lalu kepala berpikir, dada mengevaluasi kepala melaksanakan lagi, dan begitu seterusnya... KG : Apa iya?? Apa bukan bahwa kata yang brbenturan akan menjadi serpihan kata yang braneka warna?
P : Jika tabrakan kata menjadi serpihan warna pun, mata masih mampu melihatnya. Meski mata asli tak mampu melihat.. Ada mata lain yg dapat melihat lebih jelas.
KG : Justru itu.. Serpihan akan mnjadi sebuah fenomena dan jadilah peristiwa takjub..?
P : Jika memang demikian, darah mengalir dalam tubuh tanpa henti, serupa kata mengalir dada kepala tanpa henti. Semacam, alami
KG : Ya begitulah kehidupan.. Saling mengisi, kerja bareng..dst... S7 atw msh ada keraguan?
P : Dan tetap butuh suatu waktu untuk sendiri sejenak.Dan tidak ada keraguan untuk itu.Dan persetujuan tidaklah dibutuhkan sebab konflik mutlak diperlukan
KG : Weiz... baguslah Dan koreksi tetap di butuhkan" itu lebh baek dri pada tidak,
P : Maka dari itu diam sejenak dan memenuhi kebutuhan waktu utk sendiri mutlak diperlukan. Agar jiwa dapat melebur, mengoreksi sbelum dikoreksi.
KG : Oke.. Tp jangan strez ya?
P : Lhoh, memang tidak. Ini adalah sebuah keyakinan, bagian dari pernyataan sikap. Stres pun bahkan dibutuhkan dalam dosis sesuai
KG : Ya ya.. Ibu ***.?
Yang tanda bintang merupakan sensor, sebab saya tidak suka kata itu. Tapi bisa Anda Sekalian resapi sendiri... Lhah, dia nekat masih kirim SMS hanya untuk memastikan saya baik-baik sajah atau tidak. Hmmm...
KG : Salam.. Sndriny dah selesai lom?

Jadi, apa pesan moral isi tulisan eh curhatan inih?

Biasakah lekas memahami apa yang tersirat dan lekas tanggap terhadap apa yang tersurat!

Seperti yang pernah saya katakan, ketika saya telah memutuskan sesuatu dan saya BERTANGGUNGJAWAB penuh terhadap segala keputusan saya itu ITULAH Hal Terpenting dalam menjadi Manusia (berotak dan hati)-Dewasa...

Tuesday, 14 April 2009

Gila Bener...

Yah, saya ternyata benar-benar kelewat sinting. Saya bermain dengan hati dan perasaan saya dan sekaligus badan saya (hasyaaaah, kayak kisah bokep stensilan wae... astagpiruloh,,, ya owoooh...)

Yah, lagi-lagi yah... Saya benar-benar menjadikan diri saya si brengsex nomor wahid. I am playing game with my own heart (do I have a heart?yeah, like I care...)

Entahlah. Kenapa yah? Gila bener memang...

Sumpah anjrings... Ingat lagu ini : I'm bleeding just to know I'm alive. I'm playing my heart just to know I still have a heart...

Dan kini, saya merasa seperti seorang ABG tolol yang mencari jatidiri dan kekurangan drama maka mencoba menjadi drama itu sendiri...